Photo by Damien Dufour from Pexels: https://www.pexels.com/photo/drone-shot-of-a-mountain-12535268/
Hari ini aku merasa bersalah karena tidak izin beberapa hari sebelumnya. Walaupun tidak ada peraturan tertulis akan hal itu, aku merasa sedikit berkhianat? sejenis itu rasanya. Tapi disisi lain, manusia bisa merasa tidak puas, walaupun perlu diikuti dengan banyak penerimaan. Seperti hari ini. Aku menerima risiko guilty feeling karena aku tidak izin lebih cepat, namun juga aku tidak tahu perasaan orang lain ketika aku izin, apakah mereka juga tidak enak juga, menganggap aku buruk, atau apa? Padahal mereka juga tidak berpikir aku segitunya, sampai aku harus merasa bersalah.
Sebelum aku officially memulai hari dengan bekerja hari ini, aku sempatkan menulis ini untuk mengingat perasaanku beberapa bulan belakangan. Ternyata setiap rezeki kesempatan, uang, kebahagiaan itu tidak pernah murni dari usahaku sendiri. Setahun kemarin ketika aku merasa aku bekerja karena kemampuanku, aku diingatkan bahwa tahun ini aku bekerja karena aku diberikan kesempatan oleh Allah, sebuah pekerjaan tanpa proses seleksi dengan waktu rekruitmen yang sangat cepat, dan sedikit banyak aku senangi karena aku banyak belajar isu yang sebelumnya belum pernah aku kerjakan. Sedikit banyak aku juga senang dengan seluruh prosesku, bekerja dengan administrasi yang banyak, banyak program yang aku tidak tahu, masuk kedalam sistem yang orangnya sudah terkunci dan dengan kemampuan personal yang diuji, apakah aku bisa menerima dan tidak sombong dengan apa yang aku punya?
Aku tidak sempurna, dan begitu juga manusia lain; apalagi sistem yang dibuat manusia. Tapi setidak sempurnanya manusia, Allah menciptakan kita dengan sebaik baiknya. Aku yakin terlepas dengan kemampuan professionalku, kemampuan personalku, serta kemampuan fisikku, yang kupikir masih perlu banyak yang ditingkatkan, tapi sejauh ini aku sudah diciptakan sebaik baiknya oleh Allah. Setiap jalan yang aku tempuh, perasaan yang ada, merupakan karunia Nya yang saat ini perlu kupelajari jalan keluarnya. Mungkin sedikit berbeda dengan sistem yang dibangun manusia, dimana celah masih bisa kita temui dan dapatkan dengan banyaknya pendapat yang berpikir paling benar.
Meskipun aku masih belajar dan terus memperbaiki, tapi setiap pengalaman yang aku tempuh merupakan rezeki yang Allah berikan tanpa tertukar dan terkurangi porsinya. Starbucks yang aku minum hari ini serta laptop yang aku gunakan untuk menulis ini juga merupakan rezeki yang Allah berikan untuk hidupku, untuk bisa berkontribusi serta untuk menjadi lebih baik.
In the end, manusia mungkin tidak pernah bisa merasa puas dengan kesempurnaan itu, namun paling tidak manusia bisa berusaha untuk jadi lebih baik lagi, dan aku masih berusaha terus untuk menjadi lebih baik secara professional dan personal.
Komentar
Posting Komentar