Aku ragu ragu kembali, apakah benar perang itu telah usai. Bukannya pada tulisan tulisan lamaku tersirat cerita bahwa perang itu mungkin akan hadir lagi dan dunia mungkin akan kembali menyakiti. Perang pertamaku itu, memang banyak sekali mengundang tangis, tawa, dan lamunan malam malan. Rasa tidak bisa berdiri pada kaki sendiri, sedangkan aku tidak pernah bisa pulang karena diriku sendiri juga tidak menerima ketika aku tidak sempurna.
Hingga kapan nanti aku merasa lega? dan sampai disana?
Aku tidak tahu. Beberapa kali menuliskan cover letter, aku menuliskan bahwa I have a strong foundation in public health. Belajarku sendiri ternyata 5 tahun. Sedangkan pengalaman kerjaku sendiri kurang lebih 4,5 tahun. Namun hingga titik ini, terkadang aku juga goyang, tidak tahu apakah aku benar benar memiliki pondasi yang kuat seperti yang aku tuliskan.
Bagaimana rasanya? Bahagia sepenuhnya sampai merasa lega?
Aku pernah merasakan itu pada momen yang benar benar aku nantikan. Memang rasanya lega sekali. Indah sekali menyanyikan lagi nadin itu diatas jembatan dan benar benar merasa perang telah selesai. Tapi apakah layaknya perang dunia, akan ada perang perang selanjutnya yang aku tidak tahu apa wujudnya. Yang jelas aku tidak tahu titik mana aku akan merasa lega kembali. Bahagia ketika rasanya aku berhasil melewati perang yang bisa aku prediksikan itu.
Mungkin nanti, perang tidak bisa diprediksi.
Aku biasanya menuliskan kata kata penguat seperti bahwa aku bisa, seperti bahwa aku memiliki Allah yang menjagaku atau bahwa aku harus semangat. Namun, perang terhadap batin sendiri itu sulit sekali. Allah yang memberikan aku ini. Terkadang aku bingung kenapa sulit sekali memiliki emosi, hingga disuatu titik aku berdoa tidak ingin memiliki emosi lagi, karena aku takut menyakiti orang lain, atau aku harus merasakan diriku melawan diriku sendiri dengan hebat hingga aku tidak memiliki rumah, bahkan untuk diriku sendiri.
Apakah semua orang takut padaku?
Tidak mudah, aku bilang untuk menjadi aku. Aku telah melewati banyak sekali proses transformasi, benturan dan hentakan besar. Dimana aku tidak ingin menjadi orang yang ditakuti lagi. hingga aku ingin aku bisa menjadi orang yang ditunggu dan menyenangkan. Atau aku hanya ingin merasa orang2 bahagia ada disekelilingku.
Semua orang? takut padaku.
Namun demi Tuhan, aku selalu berusaha, Berusaha untuk bangun lagi ketika aku menangis. bangun lagi ketika rasanya badanku lemah sekali. bangun lagi ketika kepalaku pusing sekali, bangun lagi ketika aku merasa pesimis. bangun lagi ketika aku kecewa. bangun lagi ketika aku gagal. bangun lagi ketika aku salah. bangun lagi ketika aku marah. bangun lagi ketika aku berdosa. bangun lagi ketika aku menyakiti orang lain. Demi Allah, aku selalu berusaha.
Komentar
Posting Komentar