Photo by Riste Spiroski: https://www.pexels.com/photo/serene-twilight-view-of-boats-on-calm-lake-32803060/
Aku ingat ketika aku SMP dulu, mungkin 15 tahun yang lalu, aku menangis ketika tidak lolos olimpiade biologi saat itu. Kami diseleksi dengan kemungkinan 50%. Ya, hanya 2 orang yang diseleksi untuk satu orang perwakilan tingkat sekolah. Aku gagal dan menangis sepanjang jalan menuju kelas. Ibaratnya, aku menangis karena aku tidak berhasil dengan usahaku yang belum sempurna kala itu. Saat itu, yang aku ingat adalah kegagalan saja bahwa aku tidak pantas. In fact, tanpa menyalahkan diriku pun, aku yakin bahwa temanku lebih pantas waktu itu karena dia telah belajar dengan lebih intensif. Saat ini, belasan tahun kemudian aku sadar bahwa tidak terpilihnya aku di olimpiade biologi saat itu tidak mengubah nasibku saat ini.
Pelan pelan aku merasa, aku jadi lebih ramah melihat dunia. Aku melihat suatu perspektif yang lebih luas dari kegagalan itu sendiri. Di dunia yang lebih luas dari SMP ku itu, aku melihat kegagalan sebagai kompetisi yang belum berhasil, namun juga sebagai pertanda untuk perbaikan diri menjadi lebih baik. Ketika aku gagal mendapatkan interveview sebagai proses lanjutan seleksi kemarin, aku telah mengidentifikasi sumber kegagalanku dan bersyukur untuk mengetahui itu. Senin kemarin, aku juga telah mendapatkan banyak sekali doa yang membuatku yakin bahwa kekuatan eksternal ini lah yang membuatku tersentil untuk belajar tentang manajemen waktu.
Saat ini, semua orang sedang mengejar kehidupan yang lebih baik. Ada yang belajar di sekolah, ada yang bekerja untuk menafkahi dirinya dan keluarganya, ada yang sedang memberikan bantuan, ada juga yang main game untuk menghilangkan kepenatan, juga yang sedang membersihkan rumah agar rumahnya lebih nyaman. Suatu hal perbaikan itu rasanya sangat naluriah. Ada budheku yang baru memasang wifi, ada juga sepupuku yang mendapatkan penawaran baru. Adekku juga sedang bertemu dengan teman teman lamanya. Setiap hal pilihan orang lain itu merupakan naluriah untuk menjadi lebih baik.
Aku juga. Meskipun aku bukanlah Saffana 10 tahun yang lalu. Meskipun identitasku telah berubah. Aku tetap ingin mengejar kehidupan yang lebih baik itu. Suatu waktu untuk menjadi lebih fokus, makan lebih baik, olahraga dengan lebih teratur, dan membawa kebaikan untuk setiap project yang aku daftar. Saat ini rasanya aku sedang menjadi oli dari roda roda besar yang sedang berputar untuk membawa perbaikan. Rezeki yang tidak aku sangka bentuknya Allah berikan saat ini.
Diri ini pasti tetap membutuhkan afirmasi positif setiap harinya. Oleh karena itu di Senin pagi ini, aku akan selalu memberikan afirmasi positif bahwa akan ada banyak berita baik di minggu ini. Aku akan selalu bersiap untuk menerima tantangan tantangan baik dan bertumbuh. Selalu mengingatkan diri bahwa aku mampu untuk bergerak kearah yang lebih positif setiap harinya.
Komentar
Posting Komentar