Mungkin itu bukan Rejekimu


 Photo by Dawid Zawiła: https://www.pexels.com/photo/stunning-sunset-over-tatra-mountains-32906967/


Hari ini adalah ketiga aku menjadi full IRT dengan suami bekerja. Rasanya membingungkan sekali. Banyak orang bilang jadi IRT itu mudah, tapi sayangnya tidak buatku yang belum terbiasa. Seperti pekerjaan pekerjaan lainnya, pekerjaan rumah tangga dihargai murah, mungkin karena hal tersebut merupakan automatisasi. Namun sayangnya ternyata pekerjaan ini juga butuh ilmu yang banyak sekali. 

Seperti memanage waktu. Aku yang belum terbiasa, bisa menghabiskan waktuku untuk membuka laptop lama mencari pekerjaan, atau menstalk orang orang di social media. Aku yang belum terbiasa, juga belum menciptakan sistemku sendiri untuk memanage laundry. Untuk masak dan mencuci piring, alhamdulillah sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Ternyata rejekiku dalam bentuk kegiatan untuk 3 bulan terakhir itu seperti ini. Belajar membuat sistem sendiri di rumah, Alhamdulillah. 

Aku berdoa, yaAllah berikanlah aku rezeki yang berkah dan aku sukai dan dipertemukan dengan orang orang yang baik. Orang yang baik itu mungkin juga adalah suamiku. Di tolaknya aku di berbagai pekerjaan yang aku daftar juga membuat aku yakin bahwa, mungkin aku tidak akan suka pekerjaanya dan orang orang disana bukan orang yang baik. Sampai disana aku sadar bahwa aku memang sedang diuji untuk menjadi orang yang sabar untuk benar benar rendah hati hingga mencapai tujuanku untuk mendapatkan pekerjaan yang tepat dalam mengamalkan ilmu yang aku punya. 

Rejeki itu jika diungkapkan dalam bentuk harta. Alhamdulillah sebetulnya aku merasa cukup. Hingga saat ini, ada saja rejeki dan harta yang datang secara tiba tiba atau memang sudah diprediksi. Mungkin aku juga tidak secinta itu dengan harta sehingga Allah memberikan harta yang cukup untukku. Mungkin memang ujianku adalah pada title pekerjaanku, yang dahulu aku rasa aku dapatkan dengan beruntung saja, bukan karena pertolongan Allah. Padahal setelah kupikir, pekerjaan itu lah yang menyelamatkanku, menuntunku, serta melengkapi perjalananku LDM bersama suami. Rezeki yang memang Allah berikan, design hanya untuk aku agar aku siap, agar aku tergelincir, agar aku juga tahu kapan aku bangkit lagi dan sadar akan kesalahanku. Ternyata, hikmahnya memang selalu ada. 

Aku juga sadar, prosesku sekarang juga menuntutku untuk menurunkan ego dan kesombonganku. Coba bayangkan saja jika aku langsung bekerja kembali tanpa banyaknya penolakan, mungkin aku akan menjadi orang yang sombong dan tinggi hati. Padahal, aku masih bukan siapa siapa. Ilmuku dan pengalamanku juga belum ada satu tetes dari lautan ilmu Allah. Masih banyak yang memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih banyak. Apalagi sombong di hadapan Al-Alim. Malu rasanya kalau ingat ingat itu.  Kini aku kembali merasakan penerimaan diri lagi. Aku hanyalah hamba biasa yang juga sama seperti teman temanku. Tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Aku tidak kekurangan apapun dan merasa cukup. Ujianku sekarang adalah penerimaan dan kedisiplinan dalam merawat nikmat dari Allah. 

Aku terus terusan menuliskan ini sebagai reminder kembali buatku jika aku merasa futur lagi dan merasa futur terharap nikmat Allah. Aku percaya bahwa hidup adalah tentang kekuatan pikiran untuk terus percaya diri dan beryukur. Dengan menulis (dan berdiskusi dengan suamiku), aku terus mengingatkan diriku untuk konsisten dan disiplin dalam menerima dan sabar dalam menghadapi prosesnya, serta untuk menjadi pribadi yang terus percaya diri. Jadi pada hari ini, aku merayakan diriku sendiri yang sedang mens hari kedua, mencoba membuat sistem dirumah sendiri, serta mencari pekerjaan yang cocok untuk mengamalkan ilmuku. 

Terimakasih aku, ayo terus menjadi pribadi yang lebih baik ya

Komentar